Di Desa Toapaya Selatan, Kabupaten Bintan, sawah hijau kini menjadi simbol harapan dan semangat baru masyarakat. Bapak Putra, seorang petani sekaligus Ketua RT 014/RW 004, bersama enam orang pengurus desa tengah mengelola lahan pertanian yang rata-rata memiliki lebar 20 meter dan panjang mencapai 300 hingga 400 meter. Jika digabungkan, luas total lahan pertanian ini telah melebihi satu hektar. Setelah panen pada bulan November mendatang, mereka berencana memperluas lahan hingga mencapai 2–3 hektar.
Yang menarik, pertanian di Toapaya Selatan tidak hanya berfokus pada satu komoditas. Padi memang menjadi prioritas utama, sejalan dengan program ketahanan pangan yang digagas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Namun, warga juga menanam kelapa, pisang, jambu, serta berbagai jenis sayuran seperti kacang panjang, timun, dan cabai.
Bahkan, mereka telah merencanakan penanaman semangka dan jagung manis pada tahun depan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat desa tidak hanya bertahan, tetapi juga terus berinovasi dalam mengembangkan sektor pertanian.
Proses bertani di desa ini sebagian besar masih dilakukan secara manual menggunakan tangan, cangkul, dan alat-alat tradisional lainnya. Bahkan, pupuk disebar dengan bulu ayam, menunjukkan kesederhanaan sekaligus ketekunan yang luar biasa.
Bibit padi mereka datangkan dari Medan, Madura, dan Pacitan. Persiapan lahan pun memakan waktu hingga dua minggu. Semua dijalani dengan penuh kesabaran dan semangat, meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan seperti keterbatasan tenaga kerja, ancaman banjir saat musim hujan, dan belum tersedianya penggilingan padi di desa sendiri.Namun justru dari keterbatasan itulah tumbuh semangat kebersamaan.
“Kalau hasilnya bagus, separuh panen ingin saya bagikan kepada warga. Membantu orang lain tidak harus selalu dengan uang, bisa juga lewat hasil pertanian,” ungkap Bapak Putra.
Lebih dari sekadar mengejar hasil panen, warga Toapaya Selatan memiliki visi jangka panjang. Jika pertanian berjalan dengan baik, desa ini direncanakan akan dikembangkan menjadi kawasan wisata persawahan dan pondok wisata sederhana.
Mereka pun tengah mengupayakan bantuan alat berat dari pemerintah untuk mempermudah proses pembersihan lahan dan meningkatkan efisiensi kerja.
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Maritim Raja Ali Haji turut hadir mendukung inisiatif warga. Mahasiswa membantu dalam hal promosi dan dokumentasi kegiatan pertanian.
“Kami berharap sawah yang dikelola warga setempat dapat menjadi ikon ketahanan pangan desa sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan,” ujar Avo Agnesia Tambunan, Ketua KKN 37.
Lahan pertanian di Toapaya Selatan bukan hanya tempat bercocok tanam. Ia adalah ruang hidup, ruang kebersamaan, sekaligus warisan berharga bagi generasi mendatang. Dengan semangat gotong royong, dukungan pemerintah desa, serta sinergi bersama mahasiswa, Toapaya Selatan perlahan membuktikan bahwa pertanian tradisional tetap relevan, dan bahkan mampu menjadi sumber harapan baru yang berkelanjutan.