BeritaKepulauan RiauTanjungpinang

Kopiway: Dari Ruang Operasi ke Gerobak Listrik, Mimin Helmet Bangun Asa Lewat Rasa dan Budaya

68
×

Kopiway: Dari Ruang Operasi ke Gerobak Listrik, Mimin Helmet Bangun Asa Lewat Rasa dan Budaya

Sebarkan artikel ini

Selingsing.com, Tanjungpinang – Di balik aroma kopi dan barisan gerobak berlogo khas yang tersebar di sejumlah titik Kota Tanjungpinang, berdiri sosok penuh semangat bernama Herri Wijaya—akrab disapa Mimin Helmet.

 

Ia bukan berasal dari latar belakang bisnis kuliner, melainkan seorang mantan tenaga medis yang memilih berpaling arah demi mengejar cita-cita yang lebih dalam: menghadirkan kopi berkualitas dengan harga terjangkau, membangun tren baru, sekaligus membuka jalan bagi anak muda daerah agar menjadi tuan di rumah sendiri.

 

Lebih dari satu dekade Herri mengabdi di dunia kesehatan. Ia pernah bertugas di Unit Gawat Darurat, ruang VIP, hingga menjadi asisten dokter spesialis di ruang operasi. Namun kehidupan pribadi yang tak kunjung stabil, terutama setelah menjadi orang tua, mengguncangnya secara batin.

 

Titik balik itu membawanya menjelajah dunia baru. Ia sempat terjun di dunia e-sport bersama Bigetron, menjadi streamer Nimo TV, hingga mendirikan perusahaan di Jakarta.

 

Tapi kerinduannya pada keluarga dan ketenangan budaya Melayu membawanya kembali ke Tanjungpinang.

 

Di situlah ide Kopiway lahir—dari keresahan sederhana: tak ada kopi enak di tepi laut saat menikmati senja.

 

Bermodal satu gerobak listrik dan semangat untuk menciptakan tren, Herri mulai menjajakan kopi dari rumah, kemudian merambah ke outlet pertama di Tepi Laut.

 

Konsep Kopiway yang unik—menggunakan gerobak berbasis sepeda listrik—langsung menarik perhatian masyarakat. Bukan hanya karena bentuknya, tapi karena rasanya.

 

“Kopi itu bukan soal mahal. Yang bikin kopi mahal di kafe itu biaya tetap seperti sewa, interior, dan pegawai. Kami potong semua itu, fokus ke rasa,” ujarnya.

 

Kopiway menawarkan enam varian utama: Americano (arabika), kopi susu (robusta), aren, butterscotch, matcha latte, dan coklat untuk anak-anak.

 

Semua minuman dibanderol hanya Rp10.000–Rp15.000. Untuk menjaga kualitas, Herri belajar langsung ke Pusdiklat Kopi 5758 di Bandung, salah satu tempat pelatihan kopi terbaik di Indonesia. Di sanalah ia mendalami dunia roasting.

 

Biji kopi mentah atau green bean didatangkan dari Temanggung, Kerinci, dan Ciwidey. Pengolahan dilakukan sendiri, mulai dari sortir, sangrai, hingga racikan akhir.

 

Filosofi roasting-nya pun penuh ketelitian: “Sedikit saja gosong, karakter kopi berubah. Kami jaga agar rasa pahit, manis, asam, dan bahkan sedikit asin bisa seimbang—itulah kopi yang punya cerita.”

 

Hingga kini, Kopiway telah beroperasi di lima titik strategis Tanjungpinang: Tepi Laut, Ganet, Pemuda, STIE, dan depan RRI.

 

Gerobak mini ini tak sekadar menjual minuman, tapi menyimpan cita rasa, nilai edukatif, dan nuansa budaya. Seluruh pekerjanya adalah anak-anak muda asli Tanjungpinang.

 

Total ada sekitar 30 orang yang terbagi antara tim produksi, barista, dan penanggung jawab gerobak.

 

“Ini bukan sekadar jualan. Kami ingin mengangkat potensi lokal, sekaligus menjadi ruang kreatif bagi anak-anak muda. Dari proses produksi, pelayanan, hingga pemasaran, semuanya ditangani sendiri oleh tim kami yang juga bagian dari komunitas kreatif,” jelas Herri.

 

Nama “Kopiway” pun memiliki makna filosofis. Dalam bahasa Melayu, “way” berarti ajakan atau sahabat. Dalam bahasa Inggris, “way” berarti jalan.

 

“Kopiway itu jalan. Jalan kami membangun kultur, menciptakan tren, dan membuka lapangan pekerjaan. Dan tentu saja, jalan menikmati kopi dengan rasa khas dan harga bersahabat,” tambahnya.

 

Permintaan franchise terus berdatangan dari kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Bali, dan Pekanbaru. Tapi Kopiway belum tertarik ekspansi. Fokus mereka masih di Kepri.

 

“Kami ingin perkuat akar dulu. Bangun sistem, jaga kontrol, dan pastikan ini tetap punya rasa lokal. Kopiway harus tampil dengan cita rasa dan kultur Melayu.”

 

Mimin Helmet menaruh harapan besar pada gerakan kecil ini. Bagi dia, Kopiway bukan sekadar bisnis. Ini adalah ruang pemberdayaan.

 

Tempat bagi anak-anak muda Tanjungpinang belajar disiplin, profesional, dan mandiri—agar kelak mereka tak hanya jadi pekerja, tapi pemilik.

 

“Kami ingin anak muda lokal jadi tuan rumah. Kopi hanya medium. Tujuan akhirnya adalah kebanggaan,” pungkasnya dengan harapan besar. (yki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *