Berita

Generasi Muda Bergerak: Radi Sukma Dorong Literasi Anak Bukik Ase Melalui RAOPD

18
×

Generasi Muda Bergerak: Radi Sukma Dorong Literasi Anak Bukik Ase Melalui RAOPD

Sebarkan artikel ini
Radi Sukma, mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang.

Di tengah derasnya arus digital dan menurunnya minat baca anak, sebuah ikhtiar sederhana namun bermakna hadir dari Bukik Ase. Kawasan yang dikenal dengan semangat kebersamaannya ini menjadi saksi lahirnya sebuah strategi literasi baru bernama RAOPD (Read Aloud One Page a Day), sebuah metode membaca nyaring satu halaman setiap hari yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan membaca dan meningkatkan pemahaman literasi anak sejak usia dini.

Kegiatan literasi ini digagas dan dikembangkan oleh Radi Sukma bersama tim, yang secara konsisten turun langsung ke Bukik Ase untuk mendampingi anak-anak dalam proses membaca. Bukan sekadar membaca teks, RAOPD mengajak anak untuk mendengar, memahami, dan merespons bacaan melalui interaksi aktif. Dengan membaca satu halaman setiap hari secara nyaring, anak tidak merasa terbebani, namun tetap mendapatkan asupan literasi yang berkelanjutan.

Radi Sukma merupakan mahasiswa S2 Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Padang (UNP). Kiprahnya di dunia literasi bukanlah hal baru. Sejak dipercaya menjadi Duta Bahasa Sumatera Barat, Radi telah menanamkan komitmen kuat untuk memperjuangkan literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Semangat itu kini diterjemahkannya dalam bentuk aksi nyata di tengah masyarakat, khususnya di ruang-ruang literasi akar rumput seperti Bukik Ase.

Menurut Radi, tantangan literasi anak hari ini bukan hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga soal kebiasaan dan keberlanjutan. “Anak-anak sering kali merasa membaca itu berat. Melalui RAOPD, kami ingin menunjukkan bahwa membaca bisa dimulai dari hal kecil, konsisten, dan menyenangkan,” ujarnya. Metode ini menekankan kualitas pemahaman, bukan kuantitas bacaan.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak, salah satunya Yusrizal KW, pimpinan Taman Baca Masyarakat (TBM) Bukik Ase. Ia menyampaikan apresiasi tinggi atas terobosan yang dihadirkan oleh generasi muda Sumatera Barat. Menurutnya, RAOPD menjadi angin segar bagi gerakan literasi masyarakat karena menawarkan pendekatan yang aplikatif dan mudah diterapkan.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini. Kehadiran Radi dan tim membuktikan bahwa anak muda tidak hanya pandai berwacana, tetapi juga mampu melahirkan solusi nyata untuk persoalan literasi di masyarakat,” ungkap Yusrizal. Ia berharap metode RAOPD dapat terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai TBM lain.

Lebih dari sekadar program membaca, kegiatan literasi di Bukik Ase ini menjadi ruang perjumpaan nilai: antara anak, buku, dan pendamping yang hadir dengan ketulusan. RAOPD tidak hanya melatih kemampuan membaca, tetapi juga menumbuhkan keberanian berbicara, kemampuan menyimak, serta rasa percaya diri anak.

Dari Bukik Ase, pesan penting itu disuarakan: literasi tidak selalu harus megah dan rumit. Ia bisa tumbuh dari satu halaman yang dibaca dengan suara lantang, setiap hari, dengan cinta dan konsistensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *