
Selingsing.com, (Bintan) — Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir di Desa Air Gelubi kini perlahan berubah. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah nelayan mengaku semakin sulit mendapatkan hasil tangkapan ikan seperti biasanya.
Aktivitas melaut yang dahulu mampu mencukupi kebutuhan keluarga, kini tak lagi memberikan hasil yang pasti. Beberapa nelayan menyebut hasil tangkapan mereka menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Dulu sekali turun bisa dapat 300 ekor ikan, sekarang dapat 30 saja sudah susah. Bagaimana mau kasih makan keluarga,” ujar salah seorang nelayan Desa Air Gelubi.
Kondisi tersebut mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat pesisir yang sebagian besar menggantungkan hidup dari laut. Para nelayan mengaku harus melaut lebih jauh untuk mencari ikan, sementara biaya operasional seperti bahan bakar terus meningkat.
Sebagian warga menduga perubahan kondisi laut dan aktivitas proyek di sekitar wilayah pesisir turut memengaruhi hasil tangkapan mereka. Meski demikian, masyarakat berharap ada perhatian lebih terhadap kondisi yang sedang mereka alami.
Menurut Muhammad Habibi Al Fitra, keresahan nelayan bukan hanya soal berkurangnya hasil tangkapan, tetapi juga menyangkut ketidakpastian masa depan masyarakat pesisir.
“Laut bagi masyarakat Desa Air Glubi adalah sumber kehidupan. Ketika hasil tangkapan mulai berkurang, otomatis ekonomi masyarakat ikut terdampak. Ini yang menjadi keresahan warga hari ini,” ujar Habibi.
Ia berharap pembangunan dan aktivitas proyek yang berjalan tetap memperhatikan kondisi lingkungan laut serta keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.
Bagi warga Air Gelubi, laut bukan sekadar hamparan air, melainkan ruang hidup yang selama bertahun-tahun menopang kebutuhan keluarga mereka. Ketika hasil laut mulai berkurang, kekhawatiran terhadap masa depan pun ikut muncul.
“Kalau ikan makin susah, kami mau hidup dan makan dari apa?” ungkap Junnah, warga Desa Air Gelubi.
Di tengah arus pembangunan yang terus berjalan, masyarakat berharap suara nelayan kecil tetap didengar. Mereka tidak menolak kemajuan, namun ingin kehidupan pesisir dan sumber penghidupan mereka tetap terjaga.
Hari ini, keresahan itu masih terasa di Air Gelubi. Laut yang dulu ramai oleh harapan, kini perlahan dipenuhi kekhawatiran. (Rendy)






