BeritaBerita UtamaKarimunKepulauan Riau

Ironi Era Digital, Sejumlah Desa di Kecamatan Ungar Masih Kesulitan Akses Internet

23
×

Ironi Era Digital, Sejumlah Desa di Kecamatan Ungar Masih Kesulitan Akses Internet

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, Assril.

Selingsing.com, Karimun – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital di Indonesia pada tahun 2026, masih terdapat sejumlah wilayah yang belum menikmati akses jaringan internet secara layak.

 

Kondisi ini menjadi ironi, ketika berbagai sektor kehidupan kini sangat bergantung pada konektivitas internet.

 

Salah satu wilayah yang masih menghadapi persoalan tersebut adalah Kecamatan Ungar, Kabupaten Karimun. Beberapa desa di kecamatan ini dilaporkan masih mengalami keterbatasan akses jaringan internet, baik dari segi jangkauan maupun kualitas layanan.

 

Kondisi tersebut disoroti oleh Assril, putra daerah asal Kecamatan Ungar yang juga merupakan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau. Ia menilai hingga saat ini pemerataan akses jaringan di wilayah tersebut belum menjadi perhatian serius.

 

Menurut Assril, masyarakat setempat sudah cukup lama mengeluhkan sulitnya mengakses jaringan internet. Bahkan, meskipun infrastruktur telekomunikasi telah dibangun di beberapa titik, kenyataannya masih ada desa yang belum dapat menikmati akses jaringan secara optimal.

 

“Sebagian masyarakat bahkan harus berpindah ke titik tertentu yang cukup jauh dari tempat tinggal, seperti ke area pelabuhan, hanya untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik,” ungkapnya, Jumat (27/3/2026).

 

Ia menilai kondisi ini menunjukkan masih adanya ketimpangan pembangunan infrastruktur digital, khususnya di wilayah-wilayah yang berada di luar pusat kota.

 

Keterbatasan akses jaringan ini juga berdampak pada berbagai sektor, salah satunya dunia pendidikan.

 

Para tenaga pendidik di wilayah tersebut mengaku kesulitan menjalankan proses pembelajaran daring, terutama pada masa pandemi COVID-19 ketika kegiatan belajar mengajar dilakukan secara online menggunakan platform seperti Zoom.

 

Kualitas jaringan yang tidak stabil membuat proses pembelajaran menjadi tidak efektif. Tidak jarang siswa kesulitan mengikuti pelajaran karena gangguan jaringan atau bahkan tidak dapat terhubung sama sekali.

 

Menurut Assril, kondisi tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat internet saat ini bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

 

“Saya menegaskan bahwa akses jaringan bukan lagi kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan dasar. Jika pemerintah serius mendorong transformasi digital, maka pemerataan jaringan hingga ke desa-desa harus menjadi prioritas,” tegasnya.

 

Ia juga mengingatkan bahwa keterbatasan akses jaringan dapat memperlebar kesenjangan digital antarwilayah. Ketika daerah perkotaan menikmati akses internet yang cepat dan stabil, masyarakat di sejumlah desa justru masih harus berjuang mencari sinyal.

 

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kesenjangan pembangunan akan semakin terasa, khususnya dalam hal akses informasi, pendidikan, hingga peluang ekonomi berbasis digital.

 

Karena itu, ia berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat segera mengambil langkah nyata untuk memastikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi dilakukan secara merata.

 

“Jangan sampai masyarakat di desa terus tertinggal hanya karena persoalan jaringan. Pemerataan akses internet harus benar-benar diwujudkan agar semua masyarakat dapat berkembang mengikuti kemajuan zaman,” tutupnya.

(Yuki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *