Selingsing.com, Tanjungpinang – Menyongsong delapan puluh tahun Indonesia merdeka, Anggota Dewan Pakar Majelis Nasional (MN) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Drs. H. Manimbang Kahariady, menekankan urgensi lahirnya kepemimpinan transformatif yang berlandaskan pada konsep Lima Insan Cita sebagai arah pembaruan bangsa di masa depan.
Hal itu ia sampaikan dalam forum Silaturahmi dan Dialog Interaktif bertema “Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan RI: Mewujudkan Kepemimpinan Transformatif Berbasis Lima Insan Cita” yang digelar Majelis Wilayah KAHMI Kepulauan Riau di Tanjungpinang, Rabu (20/8/2025).
Manimbang menyebut, Indonesia tidak cukup dipimpin figur yang hanya lihai dalam politik praktis. Pemimpin bangsa harus memiliki pijakan ilmu, kreativitas, integritas, nilai keislaman, serta kesadaran sejarah.
“Lima Insan Cita merupakan warisan pemikiran HMI yang wajib dijadikan panduan KAHMI dalam menyiapkan calon-calon pemimpin bangsa,” tegasnya.
Ia lalu menjabarkan lima dimensi tersebut:
1. Insan Akademis: SDM Cerdas dan Terampil
Mutu pendidikan menurutnya adalah kunci utama. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2024 naik ke angka 75,02, menunjukkan adanya kemajuan kualitas SDM.
Figur seperti Prof. Nurcholish Madjid dan Prof. Dawam Rahardjo ia sebut sebagai contoh cendekiawan kritis yang lahir dari HMI.
2. Insan Pencipta: Penggerak Inovasi dan Penelitian
Indonesia berhasil naik peringkat dalam Global Innovation Index 2024 ke posisi 54 dari 133 negara.
“Pemimpin perlu menumbuhkan budaya riset, inovasi, serta menjaga kekayaan intelektual,” jelasnya, menyinggung Jusuf Kalla sebagai teladan pengusaha dan pembaru kebijakan.
3. Insan Pengabdi: Integritas dan Pelayanan Masyarakat
Walau skor Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Indonesia 2024 naik ke angka 37, posisi global masih berada di urutan 99.
“Seorang pemimpin pengabdi ialah mereka yang mengutamakan integritas, bukan sekadar mengejar kedudukan,” ucap Manimbang, menyebut Akbar Tanjung dan Mahfud MD sebagai rujukan.
4. Insan Bernafaskan Islam: Moral dan Keadilan
Dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, kepemimpinan nasional menurutnya harus ditopang nilai kejujuran, keadilan, dan prinsip rahmatan lil alamin.
“Teknologi dan ekonomi digital harus berkembang tanpa meninggalkan etika,” tambahnya.
5. Insan Bertanggung Jawab: Visi ke Depan
Prediksi ekonomi digital Indonesia mencapai US$130 miliar pada 2025 serta peluang bonus demografi membutuhkan kepemimpinan visioner.
“Seorang pemimpin wajib menjamin pertumbuhan ekonomi yang selaras dengan inklusi sosial, terutama lewat penguatan UMKM digital,” tandasnya.
Manimbang mengingatkan agar KAHMI lebih aktif dalam membimbing kader dan alumni supaya mampu melahirkan pemimpin yang relevan dengan tantangan global.
“Refleksi delapan dekade kemerdekaan tidak hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga sebagai panggilan untuk menyiapkan kepemimpinan baru yang berakar pada ilmu dan nilai,” ujarnya menutup.
Sementara itu, Ketua Umum MW KAHMI Kepri, Dr. Suryadi, menyambut baik forum tersebut dan menilai pertemuan semacam ini sangat penting.
“Silaturahmi ini bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan wadah melahirkan gagasan strategis untuk negeri. KAHMI harus terus menyediakan ruang pemikiran agar alumni HMI bisa memberi kontribusi nyata,” pungkasnya.
Agenda ini pun dimeriahkan dengan kehadiran para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang tergabung kedalam Cabang Tanjungpinang-Bintan. (yki)