Selingsing.com, Anambas – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang kesehatan pelajar justru berubah menjadi mimpi buruk di Kecamatan Siantan Tengah, Rabu (15/4/2026). Ratusan siswa mendadak mengalami gejala mual, pusing, hingga muntah usai menyantap makanan yang dibagikan, memicu dugaan kuat terjadinya keracunan massal.
Suasana yang sebelumnya dipenuhi keceriaan seketika berubah menjadi kepanikan. Para siswa satu per satu tumbang, sementara tenaga pendidik dan warga sekitar berupaya memberikan pertolongan seadanya sebelum tim medis datang.
Lonjakan pasien tak terhindarkan. Puskesmas Siantan Tengah di Air Nanga hingga RSUD Palmatak di Desa Payalaman langsung diserbu korban. Fasilitas kesehatan kewalahan menghadapi jumlah pasien yang terus berdatangan. Bahkan, sejumlah siswa terpaksa dirawat di luar ruangan dengan infus yang digantung di tiang seadanya—potret darurat yang mencerminkan minimnya kesiapan menghadapi kejadian luar biasa.
Data sementara mencatat, dari sekitar 700 penerima MBG, sedikitnya 144 orang harus mendapatkan penanganan intensif. Korban tidak hanya berasal dari siswa SD hingga SMP, tetapi juga guru dan warga yang turut mengonsumsi makanan yang sama.
Kabar ini dengan cepat memicu respons pemerintah daerah. Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu, turun langsung dari Tarempa untuk meninjau kondisi korban. Raut wajahnya menunjukkan keprihatinan saat melihat para pelajar terbaring lemah di ruang perawatan.
Pemerintah daerah pun mengambil langkah cepat dengan menghentikan sementara operasional dapur penyedia MBG. Keputusan ini diambil sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menjadi sumber masalah. Adapun menu yang dikonsumsi saat kejadian terdiri dari telur semur, tumis kol dan wortel, serta buah mata kucing.
Di tengah situasi krisis, solidaritas lintas sektor tampak mengemuka. Aparat TNI, kepolisian, hingga Satpol PP turun tangan membantu proses evakuasi. Tenaga medis tambahan juga dikerahkan untuk mengatasi tekanan yang sempat membuat RSUD Palmatak kewalahan.
Menjelang malam, kondisi mulai berangsur terkendali. Namun, kejadian ini meninggalkan tanda tanya besar terkait standar keamanan dan pengawasan program MBG di lapangan.
Peristiwa ini menjadi alarm keras: program dengan niat mulia tidak cukup hanya mengandalkan distribusi, tetapi juga menuntut pengawasan ketat dari hulu ke hilir.
Masyarakat Anambas kini menunggu kejelasan—apa yang sebenarnya terjadi di balik makanan yang seharusnya menyehatkan, namun justru membawa petaka.
(Iskandar)






