Selingsing.com, Tanjungpinang — Minimnya fasilitas laboratorium serta tingginya harga bahan kimia sintetis menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan praktikum sains di tingkat sekolah menengah.
Kondisi tersebut mendorong tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Kimia Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menghadirkan inovasi pembelajaran melalui pelatihan pembuatan indikator asam basa alami bagi siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tanjungpinang.
Kegiatan yang diketuai Kepala UPA Laboratorium Terpadu UMRAH, Hilfi Pardi, S.Si., M.Si tersebut mengusung pendekatan pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning.
“Pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses eksperimen,” sebut Hilfi.
Hilfi menjelaskan, konsep asam dan basa selama ini kerap dianggap abstrak oleh siswa apabila hanya disampaikan melalui metode ceramah.
“Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan ketersediaan indikator pabrikan, seperti kertas lakmus, metil merah, dan fenolftalein, yang membuat kesempatan siswa melakukan pengujian larutan secara mandiri menjadi terbatas,” lanjutnya menjelaskan.
Sebagai alternatif, tim PkM Program Studi Kimia UMRAH memperkenalkan pemanfaatan bahan-bahan alam yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Beberapa di antaranya adalah kol ungu, bunga telang, bunga kembang sepatu, dan kunyit.
Bahan-bahan tersebut diketahui memiliki senyawa pewarna alami, seperti antosianin dan flavonoid, yang dapat memberikan respons perubahan warna ketika berinteraksi dengan larutan yang bersifat asam maupun basa.
Dalam kegiatan praktik, para siswa dilibatkan secara langsung mulai dari proses pengolahan bahan hingga menghasilkan indikator alami. Mereka memotong bahan tanaman, melakukan proses ekstraksi menggunakan pelarut, kemudian menyaring hasil ekstraksi menggunakan kertas saring.
Hasil ekstraksi tersebut kemudian menghasilkan indikator alami dalam bentuk larutan yang dapat langsung digunakan untuk menguji berbagai sampel cairan.
“Tidak hanya dalam bentuk larutan, siswa juga diajarkan membuat indikator berbentuk kertas,” sambungnya menjelaskan.
Ekstrak alami yang telah dipekatkan digunakan untuk merendam lembaran kertas saring. Setelah dikeringkan, kertas tersebut dapat digunakan sebagai kertas indikator yang praktis dan mudah diaplikasikan untuk mengidentifikasi sifat asam atau basa suatu larutan.
Hilfi mengatakan, proses pembelajaran tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa dalam memahami konsep kimia melalui kegiatan eksperimen.
“Dengan memanfaatkan bahan alam yang mudah diperoleh, siswa dapat memahami konsep asam dan basa secara lebih konkret sekaligus belajar membuat alat praktikum sederhana secara mandiri,” jelas Hilfi.
Produk berupa larutan dan kertas indikator yang dibuat siswa selanjutnya diuji coba pada berbagai sampel cairan asam dan basa. Berdasarkan hasil evaluasi program, sebanyak 90 persen peserta mampu memahami konsep dasar asam dan basa dengan sangat baik.
Sementara itu, sebanyak 83,33 persen siswa berhasil membuat indikator alami dalam bentuk larutan dan kertas secara mandiri, sekaligus mampu menginterpretasikan perubahan warna yang dihasilkan dengan tepat.
Kegiatan tersebut mendapat apresiasi karena tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep kimia, tetapi juga mengasah keterampilan saintifik dan kreativitas siswa MAN Tanjungpinang.
“Para guru juga memperoleh tambahan referensi berupa modul pembelajaran eksperimen yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan praktikum,” ungkap Hilfi.
Melalui inovasi tersebut, tim PkM Program Studi Kimia UMRAH mendorong pelaksanaan praktikum kimia yang lebih terjangkau dan aman bagi siswa.
Pemanfaatan bahan alam sebagai indikator asam basa juga dinilai sejalan dengan prinsip kimia hijau (green chemistry), karena mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis dalam kegiatan pembelajaran,” pungkasnya.
(Yuki)






