BeritaBerita UtamaKepulauan RiauOpini

Antara Ada dan Tiada: Satu Dekade Himpunan Mahasiswa Kecamatan Durai

18
×

Antara Ada dan Tiada: Satu Dekade Himpunan Mahasiswa Kecamatan Durai

Sebarkan artikel ini

Oleh: Miki Wahyudi Alamsyah, S.T., Ketua Umum HMKD Periode 2017-2018

 

Lima tahun lalu, tepatnya pada 04 Mei 2021, HMKD dipandang sebagai organisasi yang sedang bertumbuh. Usianya masih muda, tetapi semangatnya besar. Optimisme memenuhi ruang-ruang diskusi, gagasan lahir dari keberanian, dan kritik menjadi tanda bahwa mahasiswa masih peduli terhadap daerahnya.

Hari ini, ketika perjalanan itu telah memasuki satu dekade, pertanyaan yang dahulu mungkin belum penting, kini menjadi sangat mendesak.

 

Apakah HMKD masih benar-benar ada? Ataukah hanya sekadar masih tercatat ada?

 

Sebab, ada organisasi yang hidup melalui gerakan, tetapi ada pula organisasi yang hanya hidup melalui arsip, foto pelantikan, dan status media sosial. Di sinilah “antara ada dan tiada” menemukan maknanya.

HMKD tidak sedang diuji oleh usia. Sepuluh tahun bukanlah ukuran keberhasilan. Yang diuji adalah apakah semangat yang melahirkan organisasi ini masih diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada 04 Mei 2016, HMKD lahir bukan karena kebutuhan akan sebuah nama organisasi. Ia lahir dari kegelisahan putra-putri Durai yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Tanjungpinang dan Bintan.

Mereka menyadari bahwa daerah membutuhkan suara mahasiswa yang mampu berpikir kritis, bergerak bersama, dan menghubungkan aspirasi masyarakat dengan ruang-ruang pengambilan kebijakan.

Sejarah itu seharusnya tidak berhenti menjadi cerita. Ia harus menjadi energi. Selama perjalanan organisasi, HMKD telah melewati berbagai fase. Ada masa ketika forum-forum diskusi hidup.

Ada masa ketika mahasiswa berani menyampaikan aspirasi masyarakat hingga ke tingkat kabupaten maupun provinsi. Ada masa ketika alumni tetap menjaga hubungan dengan organisasi. Semua itu menjadi bukti bahwa HMKD pernah menjadi rumah perjuangan.

Namun sejarah juga mengajarkan bahwa tidak ada organisasi yang akan terus besar apabila hanya bergantung pada romantisme masa lalu.

Yang membuat organisasi bertahan bukan hanya pendirinya. Melainkan keberanian setiap generasi untuk memperbaiki apa yang belum selesai. Karena itu, alarm terbesar bagi HMKD hari ini bukanlah menurunnya jumlah mahasiswa.

 

Kerjasama Masyarakat dan HMKD dalam Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 2017

 

Bukan pula semakin banyaknya organisasi kemahasiswaan kedaerahan. Melainkan ketika mahasiswa mulai kehilangan alasan mengapa mereka harus berhimpun. Ketika organisasi hanya dipandang sebagai tempat mendapatkan jabatan.

Ketika musyawarah hanya menjadi agenda pergantian kepengurusan. Ketika kaderisasi hanya formalitas. Ketika latihan kepemimpinan kehilangan ruh intelektual. Ketika kritik dianggap ancaman. Ketika alumni hanya dikenang namanya tanpa lagi menjadi sumber pembelajaran.

Saat itulah organisasi perlahan bergerak dari “ada” menuju “ketiadaan” meskipun benderanya masih berkibar

 

Sepuluh tahun seharusnya menjadi momentum untuk bertanya dengan jujur.

 

Masihkah HMKD menjadi rumah belajar?

Masihkah ia melahirkan pemimpin?

Masihkah ia menjadi ruang bagi mahasiswa Durai untuk berpikir tentang masa depan daerahnya?

Ataukah ia hanya hadir ketika ada pelantikan dan musyawarah?

Organisasi mahasiswa tidak pernah dibangun untuk menjadi tempat yang nyaman.

Ia dibangun untuk melahirkan manusia yang berani berpikir, berani berbeda, berani mengabdi, dan berani mempertanggungjawabkan setiap gagasan kepada masyarakat.

 

HMKD saat menggelar agenda Family Gathering pada tahun 2018

 

HMKD juga harus berani mengevaluasi dirinya. Metode kaderisasi harus disesuaikan dengan tantangan zaman. Latihan kepemimpinan harus kembali menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar memenuhi agenda semata.

Musyawarah Besar harus menjadi forum pertanggungjawaban gagasan, bukan sekadar pergantian kepengurusan.

Hubungan alumni dan pengurus aktif harus dibangun sebagai hubungan pembelajaran, bukan hubungan kekuasaan.

Mahasiswa hari ini hidup pada zaman yang jauh berbeda dengan satu dekade lalu. Tantangannya lebih kompleks. Informasi bergerak lebih cepat. Persaingan semakin ketat.

Karena itu, organisasi juga harus berkembang tanpa kehilangan identitasnya. HMKD harus tetap menjadi rumah intelektual bagi mahasiswa Durai, sekaligus jembatan pengabdian kepada masyarakat Kecamatan Durai dan Kabupaten Karimun.

Perjalanan sepuluh tahun bukanlah garis akhir. Ia hanyalah cermin. Cermin untuk melihat apakah kita masih berjalan pada cita-cita yang sama, atau justru mulai kehilangan arah.

Karena organisasi tidak pernah mati ketika pengurus berganti. Organisasi hanya benar-benar mati ketika generasinya berhenti peduli. Maka, refleksi ini bukan untuk mengenang masa lalu.

Bukan pula untuk merayakan usia. Tetapi untuk mengingatkan bahwa sejarah akan selalu bertanya kepada setiap generasi, Sebab, pada akhirnya, yang menentukan HMKD tetap ada atau perlahan menjadi tiada bukanlah umur organisasi.

Melainkan keberanian mahasiswanya untuk terus berpikir, bergerak, menjaga persaudaraan, dan mengabdi kepada daerah.

 

Sepuluh tahun bukan sekadar tentang bertahan. Sepuluh tahun adalah tentang membuktikan bahwa keberadaan organisasi masih memiliki makna bagi masyarakat yang diperjuangkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *