DaerahKepulauan RiauNasionalOpiniTanjungpinang

Setelah Outfit Check, Lalu Apa?

24
×

Setelah Outfit Check, Lalu Apa?

Sebarkan artikel ini
Opini Salsabila Ghassani, Mahasiswa Program Studi Kajian Film, Televisi dan Media, Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji

Selingsing.com, Tanjungpinang – Tren pamer busana di kalangan mahasiswa Tanjungpinang bisa berujung di tumpukan baju tak terpakai, atau di meja penjahit lokal Setiap pagi, lorong-lorong kampus UMRAH berubah menjadi catwalk. Sebelum masuk kelas, mahasiswa saling menilai pakaian, merekamnya, lalu mengunggahnya ke TikTok dengan tagar “Outfit Kuliah Day 1” atau “Berapa Harga Outfit Lo”. Tagar terkait seperti #OutfitKuliah atau #OutfitCheck di TikTok telah mengumpulkan lebih dari 1 miliar tayangan secara kumulatif secara nasional, menunjukkan masifnya minat mahasiswa terhadap tren ini.

Tren ini tidak sepenuhnya buruk. Psikolog Hajo Adam dan Adam Galinsky menunjukkan dalam penelitian mereka pada 2012 bahwa pakaian bisa memengaruhi cara pemakainya berpikir dan bersikap. Dalam percobaan mereka, peserta yang mengenakan jas yang disebut sebagai jas dokter lebih teliti mengerjakan tugas. Pakaian, dengan kata lain, bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga sumber rasa percaya diri.

Masalahnya muncul ketika rasa percaya diri itu harus terus diperbarui dengan pakaian baru. Konten “berapa harga outfit lo” diam-diam menetapkan standar: tampil di kamera berarti tampil dengan sesuatu yang baru. Kebiasaan belanja mahasiswa saat ini didominasi oleh belanja daring (online) yang praktis. Mereka sering melakukan pembelian impulsif (membeli barang bukan karena kebutuhan melainkan keinginan atau tren), dengan frekuensi rata-rata 1–2 kali per bulan hingga kategori tinggi, dan menjadikan promo gratis ongkir serta diskon sebagai faktor penentu utama. Mengakibatkan lemari mahasiswa penuh, tetapi tidak pernah terasa cukup.

Di sinilah gagasan mahasiswa UMRAH sendiri menarik dicermati. Tim Oceanova mengembangkan MORAYA, platform yang mempertemukan pelaku usaha fesyen, penjahit lokal, dan konsumen di Kepri. Kepada RRI Tanjungpinang 16 September 2026, perwakilan tim, Ralda Ayu Bintani, menyebut platform itu dirancang untuk menjawab persoalan yang dihadapi penjahit lokal. Meskipun awalnya lahir dari ruang perlombaan akademik dan inkubasi kampus, konsep MORAYA kini diarahkan untuk dikembangkan secara nyata guna merangkul puluhan UMKM penjahit lokal di Tanjungpinang.

Jika dikembangkan dengan tepat, platform semacam ini bisa mengubah arah tren. Outfit check tidak harus berarti baju baru. Ia bisa berarti kemeja lama yang dipermak, kain tenun yang dijahitkan ke penjahit di Tanjungpinang, atau padu-padan cerdas dari isi lemari yang sudah ada. Kreativitasnya tetap ada; yang berubah hanyalah ke mana uangnya pergi.

Kampus bisa memulainya dengan langkah sederhana: tantangan outfit check tanpa belanja baru, misalnya dengan pakaian hasil permak penjahit lokal. Lorong kampus boleh tetap menjadi catwalk. Yang perlu diganti hanyalah ukurannya: bukan berapa harga pakaianmu, tetapi berapa lama ia bertahan.

Penulis : Salsabila Ghassani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *