Selingsing.com, Tanjungpinang — Ketersediaan air bersih yang layak masih menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan pesisir. Kondisi ini mendorong tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Kimia Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menggelar pelatihan pembuatan alat penyaring air mandiri bagi warga Kampung Sei Ladi, Senin (5/10/2026).
Pelatihan tersebut menjadi upaya untuk memberikan solusi sederhana dan terjangkau bagi masyarakat dalam mengolah air untuk kebutuhan domestik.
Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan tim, air sumur dan air payau di Kampung Sei Ladi menghadapi sejumlah persoalan, seperti keruh, berbau, serta memiliki tingkat keasaman dengan pH berkisar 5,0 hingga 6,0.
Selain itu, air di kawasan tersebut terdeteksi mengandung logam berat, seperti besi (Fe) dan mangan (Mn), dengan kadar yang melebihi ambang batas untuk kebutuhan domestik.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim Program Studi Kimia UMRAH memperkenalkan pemanfaatan limbah lokal berupa cangkang siput gonggong sebagai salah satu material utama dalam alat penyaring air.
Plt.Koordinator Program Studi Kimia Fakultas Teknik dan Teknologi Kemaritiman (FTTK) UMRAH, Dr. Eka Putra Ramdhani, S.T., M.Si menjelaskan bahwa cangkang gonggong memiliki kandungan kalsium karbonat (CaCO₃) yang tinggi.
Menurutnya, senyawa tersebut memiliki sifat basa alami yang dapat membantu mengikat ion penyebab keasaman sekaligus mengendapkan logam berat yang terlarut dalam air.
Dalam kegiatan itu, warga juga mendapatkan demonstrasi langsung mengenai cara merakit filter air menggunakan pipa transparan.
“Rangkaian penyaring disusun secara bertingkat dengan beberapa material, yakni kerikil, pasir kasar, pasir halus, ijuk, arang aktif, serta pecahan cangkang gonggong sebagai lapisan utama,” sebutnya dalam agenda tersebut.
Saat demonstrasi berlangsung, salah seorang warga menanyakan apakah cangkang gonggong harus dibakar terlebih dahulu menggunakan oven bersuhu tinggi atau tungku khusus sebelum digunakan sebagai bahan penyaring.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Eka menjelaskan bahwa pembakaran atau kalsinasi memang dapat dilakukan dalam skala laboratorium untuk membuka pori-pori material secara maksimal. Namun, proses itu tidak wajib diterapkan pada penggunaan filter skala rumah tangga.
“Untuk penggunaan rumah tangga, cangkang gonggong tidak harus dibakar. Warga cukup mencucinya hingga bersih, kemudian menjemurnya di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering,” jelasnya.
Setelah kering, cangkang gonggong ditumbuk atau dihancurkan hingga berukuran sekitar 5–20 milimeter sebelum dimasukkan ke dalam rangkaian pipa penyaring.
Metode tersebut dinilai lebih praktis dan murah karena dapat dilakukan dengan peralatan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar.
Hasil demonstrasi menunjukkan bahwa filter rakitan tersebut mampu menurunkan tingkat kekeruhan air secara drastis hingga di bawah 5 NTU. Selain itu, proses penyaringan juga membantu menetralkan pH air hingga mencapai 7,0 serta mengurangi bau tanah.
Melalui kegiatan ini, tim PkM Program Studi Kimia UMRAH berharap masyarakat Kampung Sei Ladi dapat memanfaatkan limbah cangkang gonggong sebagai bahan bernilai guna sekaligus memperoleh alternatif pengolahan air yang murah, mudah dirawat, dan ramah lingkungan.
“Edukasi tersebut diharapkan dapat mendorong kemandirian masyarakat dalam menyediakan fasilitas pengolahan air sederhana di rumah masing-masing,” pungkasnya.
(Yuki)






