BatamBeritaBerita UtamaDaerahKepulauan RiauLinggaTanjungpinang

Cabor Penghibur Dibiayai KONI Lingga, Sepak Bola Justru Takluk 0-1 dari Batam

18
×

Cabor Penghibur Dibiayai KONI Lingga, Sepak Bola Justru Takluk 0-1 dari Batam

Sebarkan artikel ini

Selingsing.com, Tanjungpinang – Kekalahan tipis 0-1 dari Kota Batam menjadi catatan bagi tim sepak bola Kabupaten Lingga dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Kepulauan Riau (Kepri) 2026. Namun, di balik hasil pertandingan tersebut, muncul kembali pertanyaan mengenai keputusan KONI Lingga dalam menentukan cabang olahraga (cabor) yang mendapat dukungan pembiayaan untuk mengikuti pesta olahraga tingkat provinsi itu.

Sejak peluit awal dibunyikan, Batam tampil lebih agresif dengan tekanan yang membuat para pemain Lingga harus bekerja keras menjaga lini pertahanan. Lingga sesekali mencoba membangun serangan dan sempat memperoleh peluang di depan gawang lawan, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi gol.

Permainan Lingga juga belum sepenuhnya solid. Sejumlah kesalahan dalam penguasaan bola membuat serangan yang dibangun kerap terhenti sebelum berkembang menjadi ancaman serius.

Memasuki babak kedua, Lingga mencoba meningkatkan intensitas serangan. Beberapa umpan diarahkan ke depan gawang Batam, tetapi berhasil diamankan penjaga gawang lawan. Sebaliknya, Batam tampil lebih efektif melalui serangan balik yang beberapa kali mengancam pertahanan Lingga.

Tekanan tersebut akhirnya membuahkan gol bagi Batam. Sebuah serangan berhasil menembus pertahanan Lingga dan mengubah kedudukan menjadi 1-0.

Lingga berusaha mengejar ketertinggalan hingga menit-menit akhir. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Peluit panjang pun memastikan kemenangan Kota Batam dengan skor 1-0.

Persoalan Cabor Penghibur dan Penggunaan Dana KONI

Kekalahan ini menjadi menarik untuk dicermati karena sepak bola merupakan salah satu dari tujuh cabang olahraga yang mendapatkan pembiayaan dari KONI Lingga untuk mengikuti Porprov VI Kepri 2026.

Berdasarkan informasi anggaran yang disampaikan, Pemerintah Kabupaten Lingga mengalokasikan dana hibah sebesar Rp300 juta kepada KONI Lingga. Dari jumlah tersebut, Rp220 juta diperuntukkan bagi kegiatan Porprov, sementara Rp80 juta digunakan untuk kebutuhan organisasi KONI.

Namun, di tengah keterbatasan anggaran tersebut, terdapat 11 cabang olahraga lainnya yang harus berjuang menggunakan dana mandiri demi tetap bisa berpartisipasi dalam Porprov.

Persoalan yang kemudian menjadi sorotan bukan semata-mata kekalahan tim sepak bola Lingga. Sebab, dalam menentukan tujuh cabor yang mendapatkan pembiayaan, terdapat cabor yang dipilih berdasarkan prestasi pada Porprov V tahun 2022, tetapi ada pula yang masuk bukan karena pertimbangan prestasi.

Ketua Harian KONI Lingga, Rustam, dalam rapat pertemuan bersama para pimpinan cabor beberapa waktu lalu, sempat menyampaikan alasan pemilihan salah satu cabor tersebut.

Menurut Rustam, cabor itu dipilih karena memiliki nilai hiburan dan dekat dengan masyarakat.

Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan pembinaan olahraga di Kabupaten Lingga. Apakah anggaran olahraga daerah seharusnya lebih diprioritaskan untuk cabang olahraga yang memiliki rekam jejak prestasi dan peluang menyumbangkan medali, atau juga dialokasikan untuk cabang olahraga yang dipertimbangkan karena nilai hiburan dan popularitasnya?

Tentu, olahraga tidak semestinya hanya diukur dari medali. Partisipasi masyarakat, pembinaan atlet, dan pemerataan kesempatan juga merupakan bagian penting dari pembangunan olahraga.

Namun, ketika anggaran terbatas dan sebelas cabor lainnya harus berangkat dengan biaya mandiri, keputusan menentukan cabor penerima bantuan semestinya memiliki dasar yang transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kekalahan sepak bola Lingga dari Batam bukan berarti seluruh perjuangan atlet harus dihakimi berdasarkan satu pertandingan. Akan tetapi, hasil tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi apakah kebijakan pembiayaan KONI Lingga telah benar-benar berpihak pada pembinaan prestasi olahraga daerah.

Sebab, dana hibah yang bersumber dari uang rakyat bukan sekadar untuk menghadirkan kontingen di arena pertandingan, melainkan juga harus menjadi investasi bagi masa depan prestasi olahraga Kabupaten Lingga.

Pada akhirnya, masyarakat tentu berhak bertanya: ketika anggaran terbatas, apakah prioritas KONI Lingga sudah tepat antara mengejar prestasi atau sekadar menghadirkan hiburan di arena Porprov

(Budi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *