BeritaBerita UtamaDaerahKepulauan RiauNasionalTanjungpinang

GERAM Kepri Bersatu Sambangi Bandara RHF, Dorong Pelestarian Budaya Melayu

9
×

GERAM Kepri Bersatu Sambangi Bandara RHF, Dorong Pelestarian Budaya Melayu

Sebarkan artikel ini

Selingsing.com, Tanjungpinang – Generasi Anak Melayu (GERAM) Kepri Bersatu menyambangi Kantor Manajemen Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang dalam rangka mempererat silaturahmi sekaligus memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya Melayu. Kunjungan tersebut disambut langsung oleh General Manager Bandara RHF, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan, bersama jajaran manajemen, Jumat (6/11/2026).

Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi dan berbagi pengetahuan mengenai filosofi busana tradisional Melayu, khususnya Tanjak dan kain samping yang merupakan bagian dari identitas serta warisan budaya masyarakat Melayu.

Ketua Umum GERAM Kepri Bersatu, Aryandi, S.E., mengatakan bahwa pelestarian budaya Melayu merupakan tanggung jawab bersama, terutama generasi muda sebagai penerus warisan leluhur.

Menurutnya, pengenalan budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui edukasi, pembiasaan, serta penerapan nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami tidak akan pernah bosan menyosialisasikan dan memperkenalkan warisan budaya Melayu kepada masyarakat. Ini merupakan kewajiban kami sebagai generasi muda Melayu agar budaya peninggalan leluhur tidak hilang ditelan zaman,” tegas Aryandi.

Ia juga mengajak generasi muda agar tidak merasa malu mengenakan busana tradisional Melayu. Sebaliknya, Tanjak dan kain samping harus menjadi kebanggaan sekaligus simbol jati diri masyarakat Melayu.

“Jangan pernah malu memakai Tanjak warisan dan berkain samping. Itu bagian dari jati diri dan warisan yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Jika bukan kita yang menjaga dan melestarikannya, siapa lagi? Jangan sampai anak cucu kita kelak hanya mengenal Tanjak dan kain samping melalui cerita atau gambar, tanpa memahami makna dan cara pemakaiannya,” ujarnya.

Aryandi menambahkan, kecintaan terhadap budaya sendiri harus tumbuh dari kesadaran masyarakat. Generasi muda Melayu diharapkan mampu mempertahankan identitas budaya tanpa menutup diri terhadap perkembangan zaman dan kemajuan teknologi.

“Jadilah tuan di negeri sendiri, di tanah yang bertuah ini, tanah Melayu. Kita harus bangga dengan akar budaya kita, menghormati warisan leluhur, dan memastikan nilai-nilai luhur Melayu tetap hidup di tengah masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager Bandara RHF Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan, menyambut baik kunjungan GERAM Kepri Bersatu beserta upaya edukasi budaya yang dilakukan organisasi tersebut.

Ia mengapresiasi kepedulian generasi muda yang mengambil peran aktif dalam menjaga dan memperkenalkan adat istiadat Melayu agar tetap dikenal oleh generasi mendatang.

Menurutnya, pengenalan filosofi Tanjak, tata cara pemakaian kain samping, serta pemahaman terhadap nilai-nilai adat Melayu merupakan langkah positif dalam menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

Mohamad Setiadi juga menyatakan keterbukaannya terhadap peluang kolaborasi dengan GERAM Kepri Bersatu serta kesiapan memberikan dukungan sesuai kapasitas dan ketentuan yang berlaku.

Ia turut menyambut baik apabila GERAM Kepri Bersatu berencana menyelenggarakan kegiatan kebudayaan di lingkungan Bandara RHF, dengan tetap memperhatikan mekanisme, perizinan, dan ketentuan operasional bandara.

Keterbukaan tersebut diharapkan menjadi awal terbangunnya sinergi antara komunitas pelestari budaya dan pengelola bandara dalam memperkenalkan kekayaan budaya Melayu kepada masyarakat yang lebih luas.

Selain mendorong kolaborasi lintas lembaga, GERAM Kepri Bersatu juga meminta pemerintah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota, agar memberikan perhatian lebih serius terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Melayu.

GERAM menilai, pelestarian budaya membutuhkan dukungan nyata melalui program berkelanjutan, bukan sekadar slogan maupun kegiatan seremonial. Salah satunya dengan memperluas ruang promosi budaya melalui festival, pameran, pertunjukan adat, sosialisasi di sekolah, serta pelatihan mengenai filosofi Tanjak dan tata cara penggunaan busana tradisional Melayu.

Selain itu, pemerintah diharapkan memperkuat dukungan terhadap komunitas budaya, sanggar seni, budayawan, pengrajin Tanjak, serta para pelaku pelestarian adat. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan pengetahuan dan keterampilan tradisional agar tidak terputus akibat minimnya regenerasi.

GERAM Kepri Bersatu juga mendorong pemerintah mengkaji penyusunan regulasi yang mendukung perlindungan dan pelestarian warisan budaya Melayu, baik melalui peraturan daerah maupun peraturan gubernur sesuai kewenangan dan ketentuan perundang-undangan.

Regulasi tersebut diharapkan dapat menjadi landasan pelaksanaan program pelestarian secara berkesinambungan, termasuk pembinaan komunitas budaya, pelatihan generasi muda, pendokumentasian pengetahuan adat, pengenalan budaya Melayu di lingkungan pendidikan, serta dukungan anggaran sesuai prioritas pembangunan daerah.

Dengan kebijakan yang terarah dan dukungan berbagai pihak, pelestarian budaya diharapkan tidak hanya bergantung pada inisiatif organisasi atau kelompok masyarakat tertentu, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang dilaksanakan secara konsisten.

Kegiatan silaturahmi dan edukasi budaya antara GERAM Kepri Bersatu dan manajemen Bandara RHF tersebut menjadi salah satu langkah nyata dalam memperkenalkan serta menjaga warisan budaya Melayu.

GERAM Kepri Bersatu berharap semangat mencintai budaya sendiri terus tumbuh di tengah generasi muda Kepulauan Riau. Tanjak dan kain samping diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap dalam acara adat, tetapi juga menjadi simbol sejarah, jati diri, adab, serta tanggung jawab dalam menjaga warisan leluhur.

Melestarikan budaya Melayu bukan sekadar mempertahankan peninggalan masa lalu, melainkan memastikan identitas dan nilai-nilai luhur tetap hidup, dipahami, serta diwariskan kepada generasi mendatang.

(Mul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *