BeritaBerita UtamaDaerahKepulauan RiauTanjungpinang

Beberapa Ormas Melayu Kepri bersilatuhrami ke pulau Penyengat

362
×

Beberapa Ormas Melayu Kepri bersilatuhrami ke pulau Penyengat

Sebarkan artikel ini

Selingsing.com, Tanjungpinang – Beberapa Organisasi Melayu Kepulauan Riau menyelenggarakan kegiatan Silaturahmi Budaya Melayu Jum’at Bertanjak di pulau Penyengat, Jum’at (28/11/2025).

Pulau Penyengat adalah pusat sejarah dan peradaban Melayu yang dikenal sebagai salah satu ikon budaya di Indonesia. Semua yang mengikuti kegiatan ini adalah anak Melayu dari kepulauan Riau dengan mengenakan pakaian tradisional lengkap dengan Tanjak sebagai simbol marwah dan jati diri anak Melayu.

Ada beberapa Organisasi Melayu Kepulauan Riau yang turut mengikuti kegiatan ini, GERAM (Generasi Anak Melayu) Kepri Bersatu, AAMUK (Aliansi Anak Melayu Kepulauan), HULU BALANG GERAM KEPRI, TEMBUNI MELAYU, ALAMAK (Aliansi Anak Melayu Kepri), KODAM (Komunitas Budaya Melayu), GAM NR (Gerakan Anak Melayu), PPPP (Persatuan Pemuda Pulau Pulau), GAGAK HITAM, dan SAUDAGAR TANJAK.

Setelah sampai di pulau Penyengat, Ormas Melayu ini lanjut menuju makam pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah, pahlawan perjuangan yang gugur pada tahun 1784 dalam melawan penjajahan. Kehadiran para Ormas Melayu di lokasi ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan nilai-nilai keberanian, kehormatan, dan perjuangan yang diwariskan oleh leluhur Melayu. Setelah itu, lanjut melaksanakan Sholat Jum’at di Masjid Raya Sultan Riau yang berada Pulau Penyengat.

Ketua penyelenggara, Ariyandi. S.E, selaku Ketua GERAM (Generasi Anak Melayu) Kepri Bersatu menyampaikan, bahwa kegiatan ini tidak hanya dirancang sebagai forum silaturahmi, tetapi juga sebagai gerakan kebudayaan untuk menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap warisan Melayu.

“Melalui Jum’at Bertanjak ini, kami ingin mengajak seluruh masyarakat Melayu, terutama generasi muda, untuk kembali mengenal, mencintai, dan bangga terhadap identitas budaya kita. Tanjak bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol harga diri, martabat, dan persatuan Melayu,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa memilih pulau Penyengat sebagai lokasi kegiatan merupakan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan peradaban Melayu. “Pulau Penyengat adalah permata budaya kita. Dengan berkumpul disini, kita tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga menyambung ingatan kolektif tentang siapa kita dan dari mana kita berasal,” tambahnya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat persatuan, kekompakan, serta kecintaan terhadap budaya Melayu terus tumbuh, diwariskan kepada generasi yang akan datang dan dikenal baik skala Nasional maupun Internasional. Kegiatan ini ditutup dengan doa dan foto bersma.

(Imul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *