Selongsing.com, Natuna — Di tengah harapan masyarakat akan hadirnya infrastruktur yang layak, sebuah jembatan di kawasan Dasa, Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, justru menjadi simbol kekecewaan. Bangunan yang seharusnya menjadi penghubung vital itu kini disorot warga bukan karena manfaatnya, melainkan karena dinilai gagal menjalankan fungsinya.
Dari kejauhan, jembatan itu tampak berdiri seperti biasa. Namun mendekat sedikit saja, kenyataan berbeda langsung terasa. Alih-alih menjulang kokoh di atas aliran air, sebagian konstruksinya justru kerap terendam oleh air laut saat pasang penuh.Kondisi ini membuatnya sulit dilalui, bahkan pada situasi tertentu nyaris tak bisa digunakan sama sekali.
“Jembatan itu seharusnya berada di atas air, bukan malah seperti tenggelam di dalamnya. Apa fungsinya kalau begitu?” ujar Bahtiar, dengan nada kecewa, Selasa (5/5/2026).
Persoalan jembatan ini tidak lagi sekadar obrolan warga di warung kopi. Isu tersebut telah mencuat hingga ke forum resmi yang turut dihadiri anggota DPRD. Dalam pertemuan itu, masyarakat mempertanyakan kejelasan nasib jembatan,apakah akan diperbaiki atau dibangun ulang.
Jawaban yang diterima justru menambah tanda tanya. Tidak ada rencana rehabilitasi dalam waktu dekat. Opsi yang disebutkan hanyalah pembangunan ulang,itu pun tanpa kepastian kapan akan direalisasikan.
Di lapangan, kondisi fisik jembatan semakin memperkuat kekhawatiran warga. Saat air surut, kerusakan tampak jelas di beberapa bagian. Struktur semen terlihat rapuh, bahkan di sejumlah titik hanya menyisakan rangka besi.
“Kalau dilihat, seperti komposisinya tidak sesuai. Terlalu banyak pasir dibanding semen. Ini yang membuat bangunan cepat rusak,” ungkap Bahtiar.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan serius terkait kualitas pekerjaan dan pengawasan proyek. Warga menilai, kerusakan yang muncul dalam waktu relatif singkat merupakan indikasi adanya masalah sejak tahap pembangunan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kerusakan pada tiang penyangga dinilai berpotensi membahayakan keseluruhan struktur. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin jembatan tersebut akan mengalami keruntuhan.
“Jangan tunggu sampai roboh baru ada tindakan. Kalau penyangganya sudah bermasalah, itu sangat berisiko,” tegasnya
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak desa terkait kondisi tersebut. Sementara itu, sikap yang muncul dari pihak legislatif masih sebatas wacana, tanpa langkah konkret yang bisa segera dirasakan masyarakat.
Di balik semua itu, harapan warga sebenarnya sederhana, menghadirkan kembali fungsi jembatan sebagaimana mestinya. Bukan sekadar berdiri sebagai proyek fisik, tetapi benar-benar menjadi akses yang aman dan bermanfaat.
“Ini bukan hanya pendapat saya. Banyak masyarakat menginginkan jembatan ini dibangun ulang dengan kualitas yang lebih baik. Jangan sampai anggaran besar terbuang untuk sesuatu yang tidak bertahan lama,” ucap Bahtiar.
Kini jembatan Dasa Binjai berdiri bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi juga sebagai pengingat, bahwa pembangunan tanpa kualitas dan pengawasan yang baik, hanya akan meninggalkan masalah baru bagi masyarakat.
Laporan: Is






