BeritaBerita UtamaDaerahKepulauan RiauLinggaNasional

Mahasiswa Mulai Bersuara: IMKL Tanjungpinang Dinilai Gagal Tunaikan Hak Peserta

171
×

Mahasiswa Mulai Bersuara: IMKL Tanjungpinang Dinilai Gagal Tunaikan Hak Peserta

Sebarkan artikel ini

Selingsing.com, Tanjungpinang – Ikatan Mahasiswa Kabupaten Lingga (IMKL) Tanjungpinang tengah berada di bawah sorotan tajam. Organisasi yang selama ini menjadi wadah mahasiswa asal Lingga di Kota Tanjungpinang dan Bintan itu dinilai gagal menjaga amanah, setelah hak peserta Festival Semarak Lingga 2025 hingga kini belum juga diselesaikan.

Kegiatan yang digelar sejak Sabtu, 6 Desember 2025 tersebut sejatinya diikuti mahasiswa dari berbagai kampus. Namun, alih-alih meninggalkan kesan positif, festival ini justru memunculkan gelombang kekecewaan.

Ketua IMKL Tanjungpinang, Dimas Alparezi Bastian, sebelumnya menjanjikan hadiah berupa uang pembinaan, medali, dan sertifikat kepada para pemenang. Sayangnya, hingga kini kewajiban tersebut belum dilunasi.
Adapun total hadiah yang belum dibayarkan mencapai Rp4,5 juta, dengan rincian sebagai berikut:

Futsal Putra:

Juara 1 Rp1.000.000

Juara 2 Rp750.000

Juara 3 Rp600.000

Juara 4 Rp350.000

Top Score Rp100.000

Best Player Rp100.000
Futsal Putri:

Juara 1 Rp500.000

Juara 2 Rp350.000

Juara 3 Rp300.000

Juara 4 Rp250.000

Top Score Rp100.000

Best Player Rp100.000

Kondisi ini memicu reaksi keras dari kalangan mahasiswa. Tedy Nopandri dari Universitas Maritim Raja Ali Haji menilai persoalan ini bukan lagi sekadar keterlambatan administratif.

“Ini sudah masuk kategori kegagalan kepemimpinan dalam menjaga amanah. Tidak bisa lagi ditutup dengan kata ‘tunggu proses’,” tegasnya.

Ia menyebut, marwah organisasi mahasiswa Lingga kini dipertaruhkan. Menurutnya, seorang ketua seharusnya hadir membawa solusi, bukan membiarkan peserta menunggu tanpa kepastian.

Nada serupa disampaikan Ahyar, yang menekankan pentingnya transparansi dan langkah konkret dari pengurus IMKL.

“Pengurus harus adaptif dan membuka alternatif penyelesaian. Jangan hanya bertahan pada satu opsi yang sampai hari ini tidak jelas,” ujarnya.

Sementara itu, Baharudin dari STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau menyampaikan kekecewaan yang lebih tajam. Ia menilai para pemenang sudah lelah dengan janji yang tak kunjung terealisasi.

“Kami tidak butuh janji. Kami butuh hak kami dibayarkan,” katanya.

Kekecewaan ini bahkan mulai mendorong desakan agar para senior dan alumni turun tangan, mengingat kondisi organisasi yang dinilai semakin kehilangan arah.

Hal senada disampaikan Bahrain dari Universitas Maritim Raja Ali Haji. Ia menegaskan bahwa pengurus IMKL harus bertanggung jawab penuh agar kejadian serupa tidak terulang dan terus mencoreng nama organisasi.

Kritik juga datang dari Muhammad Fatur, S.Pd, yang mempertanyakan kapasitas kepemimpinan dalam menyelesaikan persoalan internal.

“Jika organisasi mahasiswa saja tidak mampu menyelesaikan hak pesertanya, bagaimana bisa berbicara tentang perjuangan dan pengabdian?” ujarnya.

Ia mengingatkan agar IMKL tidak hanya aktif saat mencari panggung kegiatan, tetapi absen ketika dituntut tanggung jawab.

Situasi ini menjadi ujian serius bagi IMKL Tanjungpinang. Jika tidak segera diselesaikan secara terbuka dan tegas, bukan hanya nama ketua yang dipertaruhkan, tetapi juga kepercayaan generasi muda terhadap organisasi itu sendiri.

Sebab dalam organisasi, kepercayaan adalah fondasi. Ketika itu runtuh, yang tersisa hanyalah nama tanpa makna.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *