Selingsing.com, Lingga – Ada kalanya sepak bola bukan sekadar soal siapa yang mencetak gol paling banyak atau siapa yang pulang membawa kemenangan. Ada cerita yang jauh lebih besar dari angka di papan skor. Cerita tentang keberanian, persahabatan, dan mimpi-mimpi kecil yang berlayar melintasi lautan.
Rabu, 5 Agustus 2026, sepuluh anak laki-laki dari SD Negeri 008 Singkep memulai perjalanan yang mungkin akan mereka kenang sepanjang hidup. Mereka bukan atlet profesional. Mereka hanyalah anak-anak sekolah dasar yang membawa tas sederhana, mengenakan seragam kebanggaan, dan menyimpan satu harapan di dalam dada: bermain sepak bola sebaik mungkin di ajang SAFAR CUP yang digelar di Pantai Armifa, Daik Lingga.
Di Kabupaten Lingga, perjalanan menuju sebuah pertandingan bukanlah perkara beberapa menit berkendara. Semua orang tahu, Lingga bukan hanya satu pulau, melainkan gugusan pulau yang dipisahkan oleh lautan. Dari Pulau Singkep menuju Pulau Lingga, mereka harus menempuh perjalanan puluhan kilometer, membelah ombak dengan perahu, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan mobil pikap hingga akhirnya tiba di lapangan pertandingan.
Mereka datang ditemani beberapa orang tua dan guru olahraga, Rizka, yang sejak awal menjadi sosok penyemangat sekaligus pembimbing bagi tim kecil itu.
Sesaat sebelum pertandingan dimulai, kesepuluh anak itu duduk melingkar. Tak ada wajah yang bermain-main. Mereka mendengarkan setiap arahan dengan penuh perhatian.
Guru Rizka kemudian menyampaikan kalimat sederhana yang perlahan membakar semangat mereka.
“Ini bukan tentang kehebatan satu orang. Ini tentang kehebatan sebuah tim. Kekompakan adalah kunci utama. Saling percaya, saling mendukung, dan kita akan menang.”
Kalimat itu seolah tertanam di benak mereka ketika peluit panjang babak pertama dibunyikan.
Namun pertandingan tidak berjalan mudah.
Tim SD Negeri 007 Lingga Timur tampil menekan sejak menit awal. Sebuah tendangan keras menghujam gawang SD 008 Singkep. Skor berubah menjadi 1-0. Tak lama berselang, gol kedua kembali tercipta. Kedudukan menjadi 2-0.
Di titik itulah mental anak-anak kecil itu diuji.
Tak ada yang menundukkan kepala. Tak ada yang saling menyalahkan.
Sudais yang mengenakan nomor punggung 1 tetap sigap di bawah mistar. Tuah (2), Baim (4), Akbar (5), Renaldi (6), Habibi (7), Sakha (8), Raffi (9), Rizuan atau yang akrab disapa Aing (10), serta Irsyad (11), mulai bermain dengan satu irama.
Mereka mengingat pesan sang guru.
Mereka bermain sebagai tim.
Hasilnya mulai terlihat.
Aing melepaskan tendangan keras yang akhirnya memecah kebuntuan. Skor berubah menjadi 2-1.
Semangat mereka semakin menyala. Serangan demi serangan terus dibangun. Beberapa menit kemudian, Aing kembali menemukan ruang tembak dan bola kembali bersarang di gawang lawan.
Skor imbang 2-2 menutup babak pertama.
Momentum telah berubah.
Memasuki babak kedua, pergantian pemain dilakukan karena pertandingan menggunakan lima pemain inti dan lima pemain cadangan. Tenaga baru membuat permainan SD 008 Singkep semakin hidup.
Aing kembali menunjukkan ketajamannya. Gol demi gol tercipta. Keadaan yang semula tertinggal berubah menjadi keunggulan meyakinkan.
Skor melonjak menjadi 5-2.
Menjelang peluit panjang berbunyi, Irsyad memastikan kemenangan lewat gol penutup yang mengubah papan skor menjadi 6-2.
Sorak-sorai pun pecah.
Anak-anak itu saling berpelukan. Mereka tertawa, berlari, dan merayakan hasil dari perjuangan yang dimulai jauh sebelum pertandingan berlangsung—sejak mereka menaiki perahu, melawan ombak, hingga tiba di lapangan hijau.
Namun sesungguhnya, kisah hari itu bukan tentang enam gol yang tercipta.
Bukan pula tentang siapa pencetak gol terbanyak.
Yang akan selalu dikenang adalah perjalanan mereka.
Perjalanan sepuluh anak yang rela menyeberangi laut demi bermain sepak bola. Perjalanan yang mengajarkan bahwa keberanian dimulai sejak langkah pertama, bahwa persahabatan tumbuh ketika saling menguatkan, dan bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan lawan, melainkan mampu bangkit saat tertinggal.
Sore harinya, mereka kembali pulang menuju Dabo Singkep.
Perahu kembali membelah ombak.
Langit mulai berubah jingga.
Di antara tawa yang memenuhi perjalanan pulang, mungkin tak satu pun dari mereka menyadari bahwa mereka baru saja menulis sebuah cerita yang jauh lebih indah daripada sekadar hasil pertandingan.
Sebab pada akhirnya, SAFAR CUP hari itu bukan hanya menghadirkan pemenang.
Ia menghadirkan kenangan yang akan selalu hidup dalam hati sepuluh anak kecil yang berani mengejar mimpi, satu pulau ke pulau lainnya.
(Budi)






